Manifes Meditasi


Dalam kultur hindu atau budha ” meditasi ” dikenal sebagai tahapan kehidupan yang bernilai tinggi untuk mendapatkan pencerahan kehidupan. Meditasi ini merupakan upaya sakral untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Penguasa Alam Semesta dengan konsentrasi penuh untuk meninggalkan nafsu pemikiran duniawi . Dalam kultur Jawa meditasi ini dikenal sebagai ”  Samadi  atau Tapa “. Bertapa untuk berkonsentrasi mendekatkan diri kepada Tuhan Penguasa Alam Semesta di suatu tempat yang sunyi dari keramaian duniawi dan meninggalkan atau menjauhkan diri dari nafsu duniawi konon telah dilakukan oleh Pertapa-pertapa Jawa.

Raja-raja Jawa yang mashur pada masa kerajaan Sriwijaya, Majapahit dan Siliwangi ternyata telah memposisikan ” Pertapa ” sebagai penasehat dan rujukan raja dalam mengambil suatu kebijakan pemerintahannya. Mereka sangat menghormati ” Pertapa ” terutama ” Pertapa Sakti “, bahkan ada yang rela meninggalkan singgasana kerajaan dan menjadi ” Pertapa “. Singgasana kerajaan diberikan kepada keturunannya yang dipercaya mampu menjalankan pemerintahan dengan adil dan mensejahterakan rakyatnya, sementara sang Pertapa memberikan dukungan spiritual dari balik layar. Dalam referensi Islam, untuk mendapatkan pencerahan dari Tuhan Penguasa Alam Semesta guna memberikan petunjuk kehidupan kepada umat manusia ternyata dilakukan oleh Nabi-nabi, seperti Nabi Musa AS melakukan pertapaan di gunung Tursina selama 40 hari 40 malam ( akhinya menerima Kitab Taurat untuk petunjuk umatnya ). Nabi Muhammad SAW saat menerima wahyu pertama kali di gua Hiro juga dalam kondisi ” bertapa ” menurut istilah Jawa. Kemudian para wali songo Jawa ternyata juga menjalani ” pertapaan “. Bukankah waliyullah RM. Syahid yang dikenal sebagai Sunan Kalijaga adalah sang ” Pertapa Sakti “. Kita juga mendengar bahwa ” Syeh Datu Kahfi ” adalah sang Pertapa Sakti yang menjadi guru dari RM. Cakra Buana dan Nyai Rara Santang ( putra-putri Raja Siliwangi ).

Dalam jaman modern, sedikit sekali atau menjadi hal yang langka bila kita jumpai sang pertapa-pertapa. Dunia modern kini lebih dikuasai oleh nafsu-nafsu duniawi sehingga banyak kehidupan di masyarakat yang kontradiktif. Nafsu angkara murka sering kita jumpai dalam berita-berita TV, mulai dari demo anarkhis sampai dengan pemaksaan kehendak keserakahan untuk menguasai duniawi dengan menghalalkan segala cara. Apakah nafsu dan keserakahan duniawi akan membawa kehidupan menjadi lebih baik atau keterpurukan dari waktu ke waktu ?

Untuk memperbaiki kehidupan menuju kedamaian dan kesejahteraan, maka keseimbangan kehidupan jasmani dan rohani, serta keseimbangan kebutuhan jasmani dan rohani harus dijaga. Kendalikan dan kuasai hawa nafsu dengan bermeditasi, bertapa, atau berpuasa adalah solusi untuk membuat dunia ini menjadi aman dan tenteram. Jika anda menginginkan duniawi maka bekalilah dengan ilmu, jika anda menginginkan ukhrawi maka diperlukan ilmu juga, dan bila anda menginginkan keduanya maka wajib bagi anda untuk berbekal ilmunya. Mudah-mudahan manifes meditasi ini dapat berfungsi sebagai sarana pembelajaran bagi kita. Tuntutlah ilmu dari turun ayunan sampai tiang lahat adalah konsep cerdas ” Long life education “.

 

 

About smpn4rdd

Visi : Berkualitas, humanis dan berprestasi Dies Natalis : 17 April

Posted on September 7, 2012, in Kegiatan Pembelajaran and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: